Showing posts with label Fiqh. Show all posts
Showing posts with label Fiqh. Show all posts

Friday, 9 January 2015

Do'a Sholat tahajjud

Assalamualaikum
Ketemu lagi sama saya. Dalam kesempatan ini saya akan share mengenai do'a Sholat Tahajjud.Sholat Tahajjud adalah salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan. Karena Allah swt. telah menyebut di dalam al-qur'an. Namun di sini admin ga akan membahas mengenai Fadilah Sholat Tahajjud, karena akan admin luncurkan di postingan selanjutnya ya. Oke sudah tidak tahan ya?! ini do'anya :
‏اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ ‏ ‏وَمُحَمَّدٌ ‏ ‏حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَاأَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَوْ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

terimakasih teman-teman sudah setia mengunjungi blog saya ini. Beritahu yang lain ya.
Sumber : Pustaka Ilmu Suni Salafiyah

Keutamaan Sholat Tarawih

Assalamualaikum
Berikut ini adalah postingan yang akan memberikan informasi mengenai keutamaan Sholat tarawih. 

Keutamaan Sholat Tarawih

Keutamaan (pahala) sholat Tarawih urut sesuai dengan pelaksanaannya mulai tanggal 1 sampai 30 Ramadhan. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya beliau berkata: “Nabi Saw. pernah ditanya tentang keutamaan shalat tarawih di bulan Ramadhan. Lantas beliau menjawab bahwa pada malam yang ke- :
1. Orang yang beriman akan terbebas dari dosanya layaknya keika baru dilahirkan oleh ibunya.
2. Orang yang sholat tarawih dan kedua orang tuanya (jika keduanya beriman) akan mendapat ampunan dari Alloh Swt.
3. Malaikat menyeru dari bawah ‘Arsy: “mulailah untuk melakukan amal kebajikan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu”.
4. Orang yang beriman akan mendapat pahala layaknya orang yang membaca kitab Taurot, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.
5. Allah Swt. menganugerahinya pahala layaknya orang yang sholat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsho.
6. Allah mencurahkan padanya pahala seperti pahalanya orang yang melakukan Thowaf di Baitul Makmur dan Bebatuan (batu-batu) memohonkan ampunan baginya.
7. Seolah ia telah bertemu Nabi Musa as. serta iktu membantunya menghadapi raja Fir’aun dan patihnya.
8. Allah akan memberikan segala sesuatu yang sudah diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as.
9. Mendapat pahala seperti pahalanya ibadah yang dilakukan oleh para Nabi.
10. Allah akan memberikan kebaikan dunia dan akhirat.
11. Mendapatkan pahala bagaikan keluar dari dunia seperti baru dilahirkan oleh ibunya.
12. Dia akan berjalan di hari kiamat dengan wajah yang bersinar laksana rembulan dibulan purnama.
13. Dia akan menemui hari kiamat dalam keadaan selamat dari kejelekan dan keburukan.
14. Malaikat akan turun ke bumi dan bersaksi dia telah melakukan sholat tarawih sehingga kelak di hari kiamat dia tidak perlu dihisab (dihitung) amalnya.
15. Seluruh Malaikat dan Malaikat yang menyangga ‘Arsy bersama-sama mendoakan selamat kepadanya.
16. Allah Swt. akan menulisnya sebagai golongan orang yang selamat dari api neraka dan mendapat keberuntungan masuk surga.
17. Dianugerahi pahala seperti layaknya para Nabi.
18. Para Malaikat berseru: “Hai hamba Allah, seseungguhnya Allah Swt. telah memberi ampunan kepadamu dan kedua orang tuamu”.
19. Derajatnya diangkat Allah Swt. di surga firdaus.
20. Dianugerahi pahala layaknya orang yang mati syahid dan orang-orang sholih.
21. Allah membangunkan untuknya sebuah rumah yang terbuat dari cahaya di dalam surga.
22. Menemui hari kiamat dalam keadaan terhindar dari segala kesusahan dan kepedihan.
23. Allah membangunkan sebuah kota di surga.
24. Allah akan memberikan 24 (dua puluh empat) do’a yang akan dikabulkan.
25. Allah akan menghilangkan siksa kubur untuknya.
26. Allah akan mengangkat pahalanya selama 40 (empat puluh) tahun.
27. Di hari kiamat dia akan melewati shirothol mustakim (jembatan) seperti kilat yang menyambar.
28. Allah Swt. akan mengangkat seribu derajat disurga untuknya.
29. Allah Swt. akan memberikan pahala seribu (1000) haji yang diterima Allah.
30. Allah Swt. akan berkata: “Wahai hambaku makanlah buah surga, minumlah minuman surga, mandilah dari air surga, Aku Tuhanmu dan kamu hambaKu”. (Durrotun Nasihin hal. 18).
Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah

Macam-Macam Sholat Sunnah

Assalamualaikum
Kali ini saya akan memposting mengenai macam-macam sholat sunnah, yang mana apabila kita melaksanakannya maka kita akan mendapat pahala dari Allah swt. Kalau kata Imam Ghazali r.a ,”Jangan kau tinggalkan sholat-sholat sunnah, karena ia menyempurnakan segala sholat fardhumu. Ibarat perniagaan shoal fardhu itu bagaikan modal, sedangkan sholat sunnah adalah kentungannya. ”

Macam-Macam Sholat Sunnah

1). Sholat sunnah Qobliyah Subuh (sholat sunnah fajar)

• Jumlah roka’at : 2 roka’at
• Hukumnya : sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan)
• Waktunya : di saat terbit Fajar Shoddiq
• Fadhilahnya : Sabda Nabi Muhammad SAW, “ Dua roka’at (sunnah Qobliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan isinya”.
Utamanya dikerjakan dirumah, apabila rumah dekat dengan Mesjid, disunnahkan membaca surat Al-Insyiroh dan Al-Fil atau surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Kata Imam Ghozali r.a, “ Telah sampai pada kami riwayat dari orang-orang sholeh yang arifin bahwa barang siapa yang membaca Surat Al-Insyiroh dan Al-Fil pada sholat sunnah subuh tidak akan disakiti dirinya oleh musuhnya”. Dan bila sholat ini dikerjakan dirumah, bila datang ke mesjid belum dilaksanakan sholat berjama’ahnya. Maka, kerjakanlah sholat sunnah Tahyyatul Masjid, lalu duduk untuk berdzikir sampai sholat berjama’ah dimulai

2). Sholat Sunnah Dzuhur (Qobliyah dan Ba’diyah)

• Jumlah roka’at dan hukumnya ;
Menurut Ulama Fiqih :
§ 4 roka’at Qobliyah Dzuhur (2 roka’at Muakkadah dan 2 roka’at Ghoiru Muakkadah)
§ 4 roka’at Ba’diyah Dzuhur (2 roka’at Muakkadah dan 2 roka’at Ghoiru Muakkadah)
Pendapat Imam Ghozali yaitu 4 roka’at Qobliyah Dzuhur. Hukumnya Sunnah Muakkadah, dikarenakan Sabda Nabi, riwayat Abu Hurairah yaitu,”Barang siapa 4 roka’at setelah gelincir matahari Qobliyah Dzuhur), dan ia memperbanyakkan bacaan dalam sholatnya, dan memanjangkan bacaan ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang beserta 70 ribu malaikat yang mengucapkan baginya (orang yang sholat) itu istighfar hingga malam”.

3). Sholat Sunnah Qobliyah Ashar

• Jumlah roka’atnya : 4 roka’at
• Hukumnya :
- Sunnah Muakkadah menurut Imam Ghozali
- Sunnah Ghoiru Muakkadah menurut Fuqoah (Ahli Fiqih)
Hadits Nabi Muhammad SAW , ”Memberi Rahmat Allah Ta’ala akan seorang hamba yang sholat 4 roka’at Qobliyah Ashar”.

4). Sholat Sunnah Maghrib (Qobliyah dan Ba’diyah)

• Jumlah roka’atnya : 2 roka’at Qobliyah Maghrib dan 2 roka’at Ba’adiyah Maghrib
• Hukumnya : Untuk Qobliyah Maghrib berbeda pendapat Sahabat tentang kesunnahannya, hanya saja menurut Imam Ghozali dikitab Ihya Umuluddin kebanyakan Sahabat mensunnahkannya , adapun hukumnya Ghoiru Muakkadah. Sedangkan Ba’diyah Maghrib, Hukumnya Sunnah Muakkadah.

5). Sholat Sunnah Isya (Qobliyah dan Ba’diyah)

• Jumlah roka’atnya dan hukumnya :
Menurut ulama Fiqih :
- 2 roka’at Qobliyah Isya (Ghoiru Muakkadah)
- 2 roka’at Ba’diyah Isya (Sunnah Muakkadah)
Menurut Imam Ghozali :
- 4 roka’at Qobliyah Isya (Ghoiru Muakkadah tercantum dalam kitab Syarah Bidayatul Hidayah)
- 4 roka’at Ba’diyah Isya (Sunnah Muakadah, tercantum dalam kitab Ihya Ulumuddin
Karena sesuai hadits Nabi, riwayat Siti Aisyah , ” Sholat 4 roka’at Rosulullah SAW, ba’da sholat isya yang akhir, kemudian ia tidur ”.

6). Sholat Sunnah Witir

• Waktunya : Setelah sholat fardhu Isya hingga terbit fajar shodiq. adapun dikerjakan boleh sebelum tidur ataupun setelah tidur (waktu Tahajjud)
• Jumlah roka’atnya : Sekurang-kurangnya 1 roka’at, dan sekurang-kurangnya 3 roka’at (baik 1 salam ataupun 2 salam)
Kata Annas bin Malik r.a, “ Adakah Rosulullah SAW sholat witir setelah sholatnya 3 roka’at padahal membaca surat sabbihis robbikal a’la (surat Al-A’la) pada roka’at pertama dan roka’at kedua qulya ayyuhal kafirun (surat Al-Kafirun) dan pada roka’at ketiga surat (Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nas)”.
Dan kata Imam Ghozali r.a,”Sesungguhnya Rosulullah SAW sholat witir 1 roka’at, 5 roka’at , hingga 11 roka’at dan dalm riwayat yang berulang-ulang witir itu 13 roka’a dan pada hadits yang syadz (yang sedikit riwayatnya) witir itu 17 roka’at.
Adapun hukumnya itu sunnah Muakkadah.

7). Solat Sunnah Dhuha

• Jumlah roka’atnya : 2 roka’at, 4 roka’at, 6 roka’at hingga 8 roka’at (menurut Ulama Fiqih), akan tetapi menurut Imam Nawawi dalam kitab Mutan Minhaj, sebanyak-banyaknya Sholat Dhuha itu 12 roka’at.
• Waktumya : Ketika matahari sudah naik setengah atau satu galah hingga sebelum gelincir matahari (+ pukul 06.30 hingga waktu dzuhur), adapun paling afdhol yaitu pukul 09.00-09.30 (seperempat hari).
“Bahwa Nabi Muhammad SAW, sembahyang Dhuha 6 roka’at, 2 roka’at dikerjakan diawal waktunya (keika matahari setinggi setengah atau satu galah) dan 4 roka’at diwaktu afdholnya, yaitu ketika sepermpat hari”.

8). Sholat Sunnah Awwabin (Hifdzul Iman)

• Waktunya : Antara sholat maghrib dengan sholat Isya.
Shalat sunnah setelah maghrib, maksudnya setelah ba'diyah maghrib disebut shalat "awwabin". Shalat ini 6 rakaat atau 20 rakaat. Tirmidzi meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda "Barang siapa shalat 6 rakaat setelah maghrib, di sela-selanya tidak berbicara kotor, maka ia mendapatkan pahala ibadah selama12 tahun. Kemudian beliau juga meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda "Barangsiapa shalat 20 rakaat setelah maka Allah mambangun rumah di sorga untuknya".
Dalam riwayat yang lain sholat sunnah Awwabin paling banyak 12 roka’at. Pelaksanaannya cukup dengan berniat sholat sunnah dan seperti sholat sunnah malam hari, dilakukan dua rakaat dengan satu salam. Imam Tirmidzi berkata, hadist Abu Harairah "gharib" (hanya diriwayatkan seorang rawi yang tidak kuat). Tabrani juga meriwayatkan dari Ammar bin Yasir, Rasulullah bersabda "Barangsiapa melakukan shalat 6 rakaat setelah aghrib, maka diampuni dosanya meskipun sebanyak ombak lautan". Ibnu Majah dan Ibnu Huzaimah juga meriwayatkan serupa.
Imam Shaukani dalam Nailul Autar setelah menyebutkan hadist-hadist di atas menjelaskan bahwa meskipun hadist-hadist ini "dla'if" (lemah), semuanya menganjurkan adanya shalat sunnah ini, apalagi ini termasuk fadlaiul a'mal (keutamaan ibadah)".
Imam Ghozali r.a bahwa jumlah roka’at sholat sunnah Awwabin di antaranya yaitu 6 roka’at, karena sesuai hadits Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa sholat antara sholat maghrib dengan sholat Isya 6 roka’at sebelum ia berbicara dengan orang lain. Maka Allah ampuni dosa-dosanya yang 50 tahun”.
Dalam riwayat Ibnu Umar bahwa nabi menganjurkan untuk sholat, setelah sholat ba’diyah Maghrib, sebelum berbicara dengan orang lain 2 roka’at sebelum sholat sunnah Hifdzul Iman atau Sholat Sunnah Awwabin, yang mana setiap roka’atnya setelah membaca Al-Fatihah, membaca surat AL-Qodr 1 x, Al-ikhlash 6 x, Al-Falaq 1 x, dan An-Nas 1 x. Lalu setelah sholat membaca tasbih (Subhanallahi wabihamdi) 15 x, dan membaca doa : “Allahumma sudidni bil iman wahfudzhu alayya fi hayati wa ‘inda wafati wa ba’da manati”. Artinya: Ya Allah teguhkanlah imanku dan peliharalah imanku didalam hidupku dan setelah matiku.

KETERANGAN :

Sunnah Muakkadah yaitu sunnah yang sangat ditekankan karena Nabi selalu mengerjakannya, sekalipun di saat musafir.

Sunnah Ghoiru Muakkadah yaitu sunnah yang Nabi sering kerjakan, tapi Nabi pun sering meninggalkannya.

Apabila seseorang yang Muladzimak (selalu merutinkan) sholat sunnah, apabila ia berhalangan karena udzur, dapat diqhodo sholat sunnah tersebut. Contohnya, apabila seseorang yang selalu mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh, akan tetapi ia berhalangan (setelah datang ke mesjid sudah berjama’ah subuh), maka ia diperbolehkan mengerjakan sholat sunnah subuh tersebut setelah sholat fardhu subuh. Hal ini tidak dibolehkan bagi orang yang tidak Muladzimak dalam sholat sunnahnya. Penjelasan tersebut terdapat dari keterangan ilmu Ushul Fiqih.
Demikian yang bisa ana share mudah-mudahan bermanfaat dan bisa kita amalakan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salfiyah

Puasa Senin Kamis

Puasa senin dan kamis

Dalam shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab,
“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya Al-Qur’an kepadaku pada hari tersebut.” (HR.Muslim).
dalam Hadits yang termaktub dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)
Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau bersabda:
“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Alloh dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang di antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan…” (HR. Muslim).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,
“Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” (Lihat Subulus Salam).

Keutamaan Puasa 6 hari di Bulan Syawal

Setelah kita melaksanakan kewajiban menjalankan puasa di bulan romadlon, disunahkan untuk kita melaksnakan puasa sunah di bulan syawal karena memiliki keutamaan yang sangat besar sekali.
من شوال كان كصيام الدهر ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي وقوله صلى الله عليه و سلم ( ستا من شوال ) صحيح ولو قال ستة بالهاء جاز أيضا قال أهل اللغة يقال صمنا خمسا وستا )
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim). Dalil ini yang dibuat pijakan kuat madzhab syafi’i, Ahmad Bin hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedang Abu hanifah memakruhkan menjalaninya dengan argument agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut... Para pengikut kalangan syafi’i menilai yang lebih utama menjalaninya berurutan secara terus-menerus (mulai hari kedua syawal) namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas. Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain, dan 6 hari dibulan syawal menyamai dua bulan lainnya (6x10=60=2 bulan). Sumber : Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

Hukum Berpuasa di Bulan Sya'ban


Bagaimanakah hukum Berpuasa di bulan Syaban?
Ayo kita langsung aja baca nih hehehe
قوله وكذا بعد نصف شعبان ) أي وكذلك يحرم الصوم بعد نصف شعبان لما صح من قوله صلى الله عليه وسلم إذا انتصف شعبان فلا تصوموا
( قوله ما لم يصله بما قبله ) أي محل الحرمة ما لم يصل صوم ما بعد النصف بما قبله فإن وصله به ولو بيوم النصف بأن صام خامس عشره وتالييه واستمر إلى آخر الشهر فلا حرمة
(Keterangan ‘begitu juga haram puasa setelah nisyfu sya’ban) berdasarkan hadits “Bila bulan sya’ban telah menjadi separuh, janganlah kalian berpuasa”. Keharaman ini dengan catatan bila puasa setelah hari nisyfu sya’ban (tanggal 16-pen) tersebut tidak disambungkan dengan puasa sebelumnya, bila disambungkan meskipun dengan berpuasa di tanggal separuh bulan sya’ban (meskipun hanya disambungkan dengan puasa pada tanggal 15) dan kemudian disambung dengan hari setelahnya hingga tanggal 30 (syaum assyak) maka tidak lagi dihukumi haram. [ I’aanah at-Thoolibiin II/273 ].
وقد قطع كثير من الشافعية بأن ابتداء المنع من أول السادس عشر من شعبان واستدلوا بحديث العلاء بن عبد الرحمن عن أبيه عن أبي هريرة مرفوعا : ( إذا انتصف شعبان فلا تصوموا ) أخرجه أصحاب السنن وصححه ابن حبان وغيره
Menurut pendapat kebanyakan ulama dari kalangan syafiiyyah permulaan larangan puasa sya’ban adalah tanggal 16 sya’ban dengan tendensi hadits riwayat al’Allaa’ Bin Abdur Rohman dari ayahnya dari Abu hurairah ra “Bila bulan sya’ban telah menjadi separuh, janganlah kalian berpuasa” (HR . Ashaab assunan disahihkan oleh Ibnu Hibbaan dan lainnya. [ Nail al-Authaar IV/349 ].

Rahasia Puasa

Rahasia PUASA 


Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

1. Menguatkan Jiwa

Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.
Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS 45:23).
Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
“Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

2. Mendidik Kemauan

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar.
Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Badan

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.
Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.
Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).
Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah

Thursday, 8 January 2015

Manfaat Berpuasa

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Tubuh

Puasa, selain kewajiban bagi umat Islam, juga dari sisi ilmu kedokteran, berpuasa ternyata bisa memberikan sejumlah manfaat kesehatan bagi tubuh. Menurut dr Siti Setiati SpPD, spesialis penyakit dalam dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indoenesia (FKUI), dengan berpuasa, jumlah kalori makanan yang kita konsumsi biasanya akan berkurang. "Pembatasan jumlah kalori makanan adalah salah satu cara yang telah terbukti dapat memperlambat penuaan. Serta mencegah penyakit yang sering timbul pada usia lanjut dan kanker," kata siti Setiati, Rabu (27/7/2011) lalu, di Jakarta.
Saat berpuasa, umumnya akan terjadi pengurangan jumlah kalori yang diasup hingga 10-40 persen dari kebutuhan sehari-hari. Hasil penelitian pada binatang menunjukkan, dengan mengurangi jumlah kalori ternyata dapat memperpanjang usia harapan hidup, menurunkan risiko kanker, mencegah berkembangnya penyakit seperti diabetes dan ginjal. "Penelitian pada manusia juga sudah ada. Dan hasilnya, komposisi lemak tubuh berkurang, tekanan darah membaik, kolesterol turun, risiko diabetes berkurang, dan dapat memperlambat proses penuaan," katanya.
Siti mengatakan, berbagai penelitian dan literatur memang telah membuktikan manfaat puasa bagi kesehatan. Tetapi, seseorang tentu tidak akan langsung merasakan khasiatnya jika hanya puasa sebulan saja. "Ini tentu bukan puasa yang hanya dilakukan satu bulan saja. Tetapi harus terus menerus dilakukan dalam bulan-bulan berikutnya," jelasnya. Manfaat restriksi (pembatasan) kalori, lanjut Siti, juga berpengaruh pada kesehatan jantung. Pembatasan kalori, dipercaya dapat memompa jantung menjadi lebih kuat dan membuat seseorang tidak mudah lelah setelah melakukan aktivitas atau olahraga. [ TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  ].

Wednesday, 7 January 2015

Mengahirkan Sholat Isya itu Sunah

Mayoritas Ulama Fuqoha (ahli fiqh) yang terdiri dari kalangan Hanafiyyah, Hanabilah, dan satu pendapat dari Syafiiyah (pada qaul jadiid) mengakhirkan sholat isya hingga sepertiga malam hukumnya disunahkan, berkata Az-Zaila’ii banyak hadits menerangkan tentang kesunahannya, ini adalah pendapat paling dominannya ahli ilmu dari para shahabat dan tabi’iin, diantara hadits yang menunjukkannya adalah sabda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam riwayat Abu Hurairoh ra. : “Andaikan aku tidak menghawatirkan memberi kesulitan pada umatku niscaya aku perintahkan pada mereka untuk mengakhirkan sholat isya hngga sepertiga malam atau separuh malam”. (HR Turmudzi I/310-312, Ibnu Maajah I/226, Ahmad Bin Hanbal II/250, Hakim dalam mustadaroknya I/146).
Kalangan Hanafiyyah memberi batasan kesunahan mengakhirkan sholat isya diatas pada saat musim dingin sedang saat musim panas justru disunahkan mengawalkan sholat isya’. (Ibnu ‘Abidiin I/146).
Kalangan malikiyyah memilih yang lebih utama bagi orang yang sholat sendirian atau berjamah bersama orang-orang yang tidak bisa dinanti kedatangannya mengawalkan sholat walaupun itu sholat isya setelah yakin masuk waktunya. (Syarh alKabiir maa Hasyiyah ad-daasuqi I/180).
Dan tidak dianjurkan mengakhirkan sholat isya hingga sepertiga malam terakhir kecuali bagi orang yang memiliki kesibukan penting, seperti menjalankan pekerjaannya, atau karena ada udzur (halangan) seperti sakit dll. Hanya saja menurut mereka (kalangan malikiyyah) dianjurkan mengakhirkan sholat isya dalam tempo waktu sedikit guna mengumpulkan orang yang hendak jamaah. (AlFawaakih ad-Dawaany I/197).
Keutamaan menjalankan sholat di awal waktu meskipun sholat isya ini juga merupakan pendapat syafi’iyyah pada Qaul lainnya (qaul qadiim), an-Nawaawy berkata “Yang lebih utama dari dua qaul (pendapat syafi'i ini) menurut kalangan syafiiyah adalah mengerjakan sholat isya di awal waktu hanya saja keutamaan mengakhirkan isya memang memiliki dalil yang kuat. (Mughni alMuhtaaj I/125, 126 dan alMajmu li an-Nawaawy III/57). Wallahu A’lamu Bis Showaab..